Updated: 18 Jul 2025     Author: Jatmiko Kresnatama     Comments: 0     English   |   Bahasa

Voice Over Medok: Benar Gak Boleh atau Cuma Mitos?

  1. Home
  2. Voice Over Blog

Sebagai seorang pengisi suara, kamu diharuskan mempunyai suara yang bagus. Salah satunya adalah tidak boleh medok. Memang, apa yang terjadi kalau suara Voice Over talent terdengar medok? Apakah benar bahwa hasil rekaman suara medok akan terdengar kurang bagus dalam rekaman voice over?

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadikan Inavoice tertarik untuk mencari tahu benar atau tidaknya mitos yang satu ini. Karenanya, kami ajak kamu untuk membuktikannya di sini bersama salah satu voice actor Inavoice yang memang dikenal jago dalam membaca naskah menggunakan dialek (logat) Jawa dan tanpa dialek. Siapa dia?

 

Ayo Kita Kenalan Dulu dengan Denta Aditya!

Denta Aditya merupakan VO talent Inavoice yang juga menggeluti pekerjaan sebagai MC (Master of Ceremony). Tak hanya itu, Denta juga bekerja sebagai tim marketing di salah satu perusahaan coklat di Yogyakarta.

Denta mengenal voice over saat dulu dirinya bekerja sebagai penyiar radio. Ngobrol, bercerita, dan take untuk iklan menjadi jobdesk utamanya ketika bekerja di sana. Pengalamannya itulah yang membawa Denta masuk ke industri voice over sejak tahun 2010.

Namun, dia baru benar-benar memutuskan menjadi pengisi suara profesional pada 2016/2017 silam. Lalu di beberapa tahun terakhir ini, Denta berkenalan dengan tim Inavoice dan menjadi salah satu talent kami.

Denta mengatakan sejak dirinya menggeluti profesi voice actor, dia sering bertemu dengan orang-orang di balik pembuatan rekaman suara. Dari situ, dia menjadi lebih mengetahui tentang seberapa kerasnya usaha para tim di balik sebuah rekaman voice over untuk bisa menghasilkan audio yang bagus.

Berbekal skill voice over-nya itu, Denta telah dipercaya untuk mengisi voice over dari berbagai brand ternama seperti Kapal Api, Pizza Hut, dan Lego. Dia juga pernah mengerjakan proyek audiobook yang cukup panjang bersama Noice dan Inavoice.

 

Game Dimulai!

Di game ini, Inavoice meminta Denta untuk membacakan sebuah naskah dengan dua gaya berbeda, yaitu dengan menggunakan dialek Jawa dan tanpa menggunakan dialek. Kemudian, dua hasil rekaman voice over tersebut kami berikan kepada dua orang tim Inavoice, yaitu admin dan brand marketing dari Inavoice. Keduanya diminta untuk memberikan penilaian terhadap hasil rekaman tersebut. Bagaimana pendapat mereka?

“Apa perbedaan dari dua hasil rekaman tersebut?”

  • Kafi (Admin Inavoice): “Menurutku terdapat perbedaan logat dari dua rekaman itu. Rekaman pertama menggunakan logat bahasa Indonesia dan rekaman kedua menggunakan logat bahasa daerah. Untuk logatnya, menurutku sangat terdengar kental, ya.”
  • Angel (Brand Marketing Inavoice): “Tadi aku sudah dengerin dua versi rekaman, yaitu versi bahasa Indonesia dan versi medok Jawa. Rekaman yang pakai bahasa Indonesia (tanpa dialek) terdengar lebih formal dan bisa menjangkau segmentasi pendengar yang lebih luas. Sedangkan untuk rekaman suara dengan dialek Jawa, beberapa artikulasi kurang terdengar jelas dan ini bisa membuat orang-orang dari daerah di luar Jawa kurang memahaminya. Untuk dialek Jawa ini sepertinya cocok kalau digunakan untuk voice over yang bertujuan memperkenalkan budaya Jawa.”

“Dari dua hasil rekaman itu, mana yang kamu pilih?”

  • Kafi (Admin Inavoice): “Tergantung, karena dua jenis voice over tersebut punya market masing-masing. Ada klien yang membutuhkan VO dengan logat daerah tertentu dan ada juga klien yang membutuhkan voice over tanpa logat. Dari klien-klien yang aku tahu, kebanyakan memang lebih membutuhkan VO tanpa dialek. Jadi, untuk VO tanpa logat memang pasarnya lebih luas dan voice over yang menggunakan logat daerah memang mempunyai pasar yang lebih kecil, sih.”
  • Angel (Brand Marketing Inavoice): “Jika market-ku adalah satu Indonesia, maka aku lebih memilih pengisi suara yang pembawaannya lebih formal atau tanpa menggunakan dialek. Alasannya karena target market-nya lebih luas, artikulasi lebih jelas, dan fleksibel dibawa ke mana-mana. Maksudnya, lebih mudah dibawa ke brand yang formal maupun ke brand yang menginginkan kesan casual.”

Jadi, dua orang dari tim Inavoice berpendapat bahwa mereka lebih menyukai suara tanpa dialek. Alasan utama mereka karena suara dari VO talent yang tidak menggunakan dialek lebih bisa menjangkau banyak target audiens. Sedangkan, VO dengan dialek terdengar kurang fleksibel karena hanya terdengar bagus untuk orang-orang dari daerah tertentu saja.

 

Jadi, Apa Benar VO Talent Itu Gak Boleh Medok?

Dari hasil rekaman dan penilaian kami, bisa dikatakan bahwa mitos yang mengatakan bahwa “voice actor gak boleh medok” adalah benar! Kenapa mitos ini valid? Karena orang-orang yang mendengarkan hasil rekaman suara dengan dialek dan tanpa dialek mengatakan bahwa voice over tanpa logat terdengar lebih bagus dibandingkan dengan voice over yang menggunakan dialek.

Hanya saja, ada sebuah pesan penting yang harus dipahami oleh para voice actor. Menggunakan logat atau tidak menggunakan logat tergantung dari naskah yang ditulis dan target audiens yang akan mendengarkan voice over tersebut. 

Jika segmentasinya sudah tepat dan target audiens memang membutuhkan VO dengan penekanan logat daerah, maka sah-sah saja untuk menggunakan suara dengan dialek tertentu. Inavoice juga pernah mengerjakan proyek voice over dengan dialek daerah tertentu. Proyek itu mengharuskan kami untuk mengerjakan audiobook berbahasa Lampung. Saat itu, klien yang memberikan kami proyek tersebut adalah sebuah penerbit buku terkenal di Indonesia.

Meskipun klien tersebut adalah perusahaan penerbitan terkenal di Indonesia, tetapi Inavoice diminta untuk mengerjakan proyek voice over berbahasa Lampung, yang tentunya membutuhkan dialek Lampung yang kental. Nah, untuk kasus seperti ini, tak ada salahnya membaca naskah dengan logat daerah tertentu. Lagi-lagi, itu tergantung dari siapa target audiens dari voice over tersebut. 

Jadi, tidak ada yang salah dengan penggunaan logat daerah. Namun, jika memang tujuanmu adalah untuk memperdengarkan voice over ke seluruh orang di Indonesia, akan lebih baik jika kamu menggunakan suara tanpa logat saat membacakan naskah VO. Hal ini akan menjadikan orang yang mendengarkan lebih memahami maksud dari voice over tersebut.

Nah, supaya target audiens yang mendengarkan voice over-mu itu merasa lebih nyaman, kamu juga perlu memberikan kualitas audio yang bagus untuk mereka. Entah dengan menggunakan dialek ataupun tanpa dialek, pastikan bahwa kualitas rekaman VO tersebut benar-benar bagus. Karena itulah, kamu membutuhkan studio rekaman voice over profesional dan di sinilah Inavoice hadir untuk kamu!

Dengan studio rekaman proper, alat-alat rekaman berkualitas, dan tim profesional yang berpengalaman, kamu bisa melakukan proses rekaman yang mudah di Inavoice. Hasilnya? Tentu jangan diragukan lagi.

Masih ragu? Coba buktikan sendiri dengan merekam suaramu di studio kami! Karena kami percaya bahwa YOU DESERVE BETTER, kami memberikanmu kemudahan dalam menghasilkan rekaman voice over berkualitas tinggi. Kamu hanya perlu datang, melakukan rekaman suara, dan biarkan kami yang mengurus sisanya!