Updated: 27 Nov 2025     Author: Sasmitha     Comments: 0     English   |   Bahasa

Sonic Branding, Jalan Pintar Voice Over Talent Raup Cuan!

  1. Home
  2. Voice Over Blog

Summary: Di era digital, identitas brand tak lagi hanya visual, tapi juga audio. Strategi ini dikenal sebagai Sonic Branding. Artikel ini mengupas tuntas apa itu sonic branding, mulai dari elemen-elemen penting seperti Sound Logo dan Brand Voice, hingga bagaimana peran krusial voice over talent di dalamnya. Pelajari tips praktis untuk voice actor agar lolos seleksi ketat dan sukses meraih cuan besar dari proyek jangka panjang sebagai suara khas brand ternama.


Siapa yang gak tahu Shopee, Sony, dan Nokia?
Brand-brand besar itu bukan cuma terkenal karena logo dan warna khasnya, tapi juga karena suara yang melekat di kepala kita. Coba deh, pas denger “Shopee!” dengan nada khasnya, pasti langsung keinget iklannya, kan? Nah, inilah kekuatan sonic branding.
 
Sonic branding bukan cuma sekadar jingle lucu atau tagline yang dinyanyikan dengan ceria. Lebih dari itu, ini adalah strategi untuk bikin brand menjadi top of mind lewat suara. Karena sekarang, identitas brand gak cuma visual, tapi juga audio. Dan di sinilah peran voice over talent jadi penting banget.
 
Suara yang kamu punya bisa jadi alat marketing jangka panjang buat brand. Gak heran kalau sekarang banyak perusahaan mulai serius ngebentuk “suara khas” mereka. Jadi, yuk, kita bahas lebih dalam soal apa itu sonic branding dan gimana voice talent bisa dapet cuan dari situ!


Apa Itu Sonic Branding?

Sederhananya, sonic branding adalah cara sebuah brand membangun identitasnya lewat suara. Kalau visual branding fokus ke tampilan seperti logo, warna, dan font, sonic branding berfokus pada suara khas yang bikin orang langsung tahu, “Oh, ini suara dari brand A!
Nah, di dalam sonic branding, ada beberapa elemen penting yang wajib kamu tahu:
  • Sound Logo: Ini semacam versi audio dari logo visual. Bentuknya suara pendek, tapi khas banget. Misalnya, “All Around You” dari Dolby. Cuma beberapa detik, tapi langsung nempel di kepala!

  • Jingle: Kalau kamu generasi yang tumbuh di era TV masih berjaya, pasti tahu “Indomie Seleraku~”. Nah, itu contoh jingle legendaris. Bahkan, kadang tanpa lihat visualnya pun, orang tahu itu iklan apa. Efeknya sekuat itu!

  • Brand Voice: Ini bagian yang paling nyangkut sama dunia pengisi suara. Brand voice adalah karakter suara khas yang selalu digunakan sebuah brand di semua medianya. Contohnya, suara mas-mas ramah di iklan Gojek yang kesannya hangat dan dekat. Jadi, gaya bicara, intonasi, dan emosi yang dipilih semuanya disesuaikan sama kepribadian brand.

  • UI/UX Sound: Kalau kamu pernah denger suara “deng tung-ning” dari aplikasi Dana, itu juga bagian dari sonic branding. Suara-suara kecil di aplikasi, kayak notifikasi, klik, atau loading, semua sengaja dibuat biar sesuai dengan karakter brand. Jadi, bukan asal bunyi, tapi dibuat dengan tujuan menambah pengalaman pengguna biar terasa khas dan menyenangkan.

Intinya, sonic branding itu gabungan antara seni dan strategi. Dan di balik semua suara yang kita dengar itu, ada peran penting seorang voice actor yang bikin karakter brand menjadi lebih hidup.


Apa Peran Voice Over Talent dalam Sonic Branding?

 

Bayangin deh, kamu jadi suara yang mewakili satu
brand besar. Setiap kali brand itu muncul di TV, radio, atau bahkan YouTube, suara kamu yang terdengar. Keren, kan? Nah, itulah peran seorang voice talent dalam sonic branding.
 
Untuk brand, suara bukan cuma pelengkap. Suara adalah bagian dari identitas. Karena itu, mereka sangat hati-hati dalam memilih siapa yang bakal jadi pengisi suara tetap mereka. Biasanya, prosesnya melalui casting yang ketat banget. Mereka bakal dengerin ratusan, bahkan ribuan suara, buat nyari satu yang paling cocok dengan karakter brand.
 
Misalnya, brand minuman kekinian pengen punya suara yang fun, ceria, dan enerjik. Tapi brand skincare mewah mungkin lebih memilih suara lembut dan tenang. Nah, di sinilah tantangan sekaligus peluang besar buat para pengisi suara!
 
Kalau kamu terpilih jadi brand voice, itu bisa jadi project jangka panjang, bahkan bertahun-tahun. Selain fee-nya besar, nama kamu juga bisa makin dikenal di industri. Bayangin aja, kamu jadi “suara resmi” dari brand besar. Itu bukan cuma keren, tapi juga bikin portofoliomu naik kelas.
 
Tapi tentu aja, buat sampai ke tahap itu, kamu harus tahu cara untuk menjadi lebih menonjol di antara banyak kandidat lainnya. Dan ini yang bakal kita bahas.
 

Gimana Agar Voice Over Talent Bisa Lolos Seleksi untuk Sonic Branding?


Kalau kamu pengen dapet
project sonic branding, ada beberapa hal penting yang harus kamu siapin biar gak kalah saing. Yuk, catat tips-tipsnya!
  • Kenali Brand-nya Dulu: Sebelum rekaman, pahami dulu brand yang kamu tuju. Apa nilai yang mereka bawa? Apakah mereka fun, profesional, berkelas, atau santai? Dengan tahu karakter brand, kamu bisa menyesuaikan tone dan gaya bicara agar selaras dengan karakter brand tersebut.

  • Latih Diksi dan Intonasi: Suara bagus aja gak cukup. Brand mencari seseorang yang bisa menghidupkan emosi lewat suara. Jadi, cobalah untuk memainkan intonasi, artikulasi, dan kecepatan bicaramu. Latihan rutin bisa bantu kamu lebih fleksibel saat menghadapi berbagai gaya voicing.

  • Upgrade Home Studio: Kualitas audio juga jadi pertimbangan penting. Percuma kalau suaramu keren tapi hasil rekamannya berisik atau gak jernih. Gak harus pakai alat mahal, yang penting kamu tahu cara treatment ruangan dan mixing dasar biar hasilnya bersih dan profesional.

  • Buat Demo Khusus: Kalau kamu udah punya beberapa demo, bikin satu yang khusus menonjolkan brand voice style. Misalnya, demo berisi gaya suara formal, youthful, calm, dan luxury. Jadi, klien bisa langsung tahu kamu cocok di gaya apa.

  • Jalin Relasi dan Aktif di Komunitas: Dunia VO itu luas tapi erat. Banyak project besar justru datang dari networking. Gabunglah di komunitas voice over, ikut workshop, atau aktif di media sosial. Siapa tahu kamu dilirik brand atau agensi!

  • Tetap Konsisten dan Terus Belajar: Kadang kamu udah ikut banyak casting tapi belum juga lolos dan itu wajar banget. Yang penting, terus upgrade skill dan jangan berhenti belajar. Tren audio branding selalu berkembang, jadi talent juga harus adaptif dengan tren gaya bicara, tone, dan teknik baru.
 

Intinya, di era sekarang,
brand gak cuma butuh visual yang kuat, tapi juga suara yang khas. Sonic branding jadi senjata baru buat bikin brand tetap relevan dan mudah diingat. Dan di balik itu semua, ada kamu, para voice actor yang bikin suara itu hidup.
 
Jadi, kalau kamu belum sempat dapet project sonic branding, jangan berkecil hati dulu. Terus asah kemampuanmu, perluas jaringan, dan jangan berhenti belajar. Dan salah satu cara terbaik buat tetap update ilmu di dunia VO adalah dengan follow akun media sosial Inavoice. Di sana, kamu bakal nemuin banyak insight baru dan tips yang bisa bantu kamu berkembang di industri voice over.
 
Ingat, setiap suara punya potensinya sendiri. Kalau kamu terus berproses dan percaya diri, suatu hari nanti bukan gak mungkin suaramu yang bakal jadi suara khas dari brand besar.
Always remember, you deserve better!