23 Feb 2021     English   |   Bahasa

Definisi Dubbing dan Perbedaannya dengan Voice Over Di Indonesia

  1. Home
  2. Dubbing Blog

Summary : "Dubbing adalah proses melokalisasi sebuah produk audio visual dengan cara sulih suara atau mengganti suara dari bahasa asli menuju bahasa target segmentasi pasar berikutnya yang direkam dengan terms-terms broadcasting. Pelaku dubbing disebut dubber, dan tentunya dubber berbeda dengan voice over talent."

 

Di era yang semuanya serba cepat dan instant ini, sebagian besar dari kita semua tentunya akan sepakat bahwa kita tidak dapat melepaskan diri kita dari sosial media. Kita akan mencari konten-konten yang sesuai dengan keinginan kita. Pintarnya sosial media yang kita gunakan dapat memperkirakan apa konten yang kita sukai didasarkan dari behaviour penggunaan sosial media tersebut.

Tidak hanya terjadi pada pengkonsumsi media saja, namun juga terjadi pada pembuat konten di sosial media. Sebagai voice over talent yang terkadang memiliki 2 akun sosial media (akun pribadi, dan akun berjualan suara) kita pasti akan sangat memahami hal ini. Sebagai voice over talent, yang menggunakan sosial media untuk berjualan profilenya, kita akan selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan konten yang mungkin seragam, yaitu dubbing viral content dan juga cover voice over. Lucunya ini marak di Indonesia voice over industry

Mari kita menelisik lebih dalam lagi, kususnya pada bagian dubbing viral content. Bagi sebagian orang mungkin telah memahami apa itu dubbing, namun bagi pemula, kadang dubbing, voice over, dan ADR masih sering bertumpukan pengertiannya. Untuk itu mari kita lihat penjelasannya.

 

Definisi Voice Over, Dubbing, dan ADR (Automated Dialog Replacement)

1. Voice Over

Voice over adalah proses membacakan naskah / script / narasi yang telah diproduksi oleh client dengan tujuan-tujuan tertentu (cenderung komersil), misalnya brand awareness, company profile, ads (tvc / radio / digital), respon audio interaktif (IVR), layanan pengumuman publik (PSA), dan banyak macam turunan voice over lainnya.

Voice over merupakan produk turunan broadcasting, yang mana diproduksi dalam rangka pemenuhan kebutuhan produksi audio / audio-visual, sehingga cara kerja dan produksi voice over selalu berkaitan dengan terms-terms broadcasting.

 

2. ADR / Automated Dialogue Replacement

Automated Dialog Replacement adalah proses mengganti suara field recording atau perekaman suara di lapangan dari sebuah produksi audio visual, yang mana ketika melakukan perekaman suara terganggu oleh noise-noise, seperti environment noise, ambience noise, room noise, electrical noise, dan banyak macam noise lainnya. Proses ADR biasanya ditemukan pada proses pembuatan sebuah film, atau iklan yang mana dalam rangkaian produksi yang sangat ketat tersebut sangat memungkinkan perekaman suara dilapangannya perlu di ganti dengan perekaman suara di dalam studio karena hal-hal yang telah dijelaskan di atas.

 

3. Dubbing

Dubbing adalah proses mengisi suara pada produk-produk yang biasanya di lokalisasi ke dalam bahasa lokal sesuai target ekspansi produk atau perusahaannya. Produk-produk yang biasanya di lokalisasi seperti iklan, opera sabun / telenovela, animasi, dan konten-konten lainnya seperti company profile dsb. bila memang sebuah perusahaan sedang melakukan ekspansi pasar ke dalam sebuah daerah. Di dalam proses dubbing biasanya dubber dan recording engineer akan disibukan dengan lip sync, dan time code sync. Lip sync adalah menyamakan teks yang dibaca oleh dubber dengan gerak bibir video yang sedang berjalan. Sedangkan time code sync adalah menyamakan panjangnya durasi bacaan yang perlu di dubbing dari bacaan aslinya, kepada hasil naskah lokalisasinya.

 

Setidaknya dari penjelasan di atas, maka kita telah memahami perbedaan Voice Over, ADR, dan Dubbing. 3 produk tersebut di atas merupakan produk turunan voice acting, yang mana definisi voice acting telah dijelaskan dalam blog kami yang berjudul Voice Acting dan Turunan Pekerjaannya : Dubbing, Voice Over, & Beberapa Lainnya.

 

Monetisasi Dubbing dari Arti Localization Content

Mari kita membahas jauh mengenai dubbing yang memiliki keunikan tersendiri dalam dunia voice acting. Seperti yang telah dituliskan di atas, dubbing merupakan proses sulih suara yang tidak dapat dipisahkan dari proses lokalisasi konten.

Tujuan lokalisasi sebuah konten bisa beragam, mulai memperluas distribusi konten ke berbagai negara, pembelian program televisi seperti kartun, dan opera sabun untuk di distribusikan pada masyarakat lokal, ekspansi sebuah perusahaan untuk memasarkan produknya secara global, hingga banyak alasan lain yang tidak bisa dijelaskan satu persatu disini.

Namun ada satu kesamaan alasan dari banyak alasan di atas, yaitu untuk memperluas jangkauan sebuah produk agar bisa dinikmati lebih banyak lagi orang.

Sehingga dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa perusahaan, rumah produksi, televisi melakukan dubbing pada sebuah produk audio visual memiliki tujuan untuk mendistribusikan produk audio visual internasional pada masyarakat lokal dengan berbagai asumsi keuntungan seperti rating, audiens engagement yang lebih tinggi, atau sekedar mendapatkan atensi pada brand baru yang sedang di distribusikan (brand awareness).

Tentunya dengan meningkatnya rating pada program yang di dubbing, kue iklan pada televisi tersebut akan meningkat. Tentunya, bagi generasi 90an masih ingat, betapa boomingnya program televisi kartun di hari minggu, atau banyaknya telenovela seperti Maria Marcedes, Amigos, dan banyak lainnya. Dengan fungsi lokalisasi dan mendistribusikannya pada masyarakat, televisi akan mendapatkan keuntungan dari iklan.

 

Sejarah Dubbing di Indonesia

Sejak kapan dubbing menjadi populer di Indonesia? Mari kita tengok sejarah perkembangan dubbing di Indonesia. Dubbing di Indonesia mulai terkenal semenjak industri film di Indonesia mulai berkembang. Semarak perkembangan industri film dengan menggunakan dialog di Indonesia mulai aktif dan berkembang semenjak tahun 1950an akhir.

Di sini, banyak sekali rumah produksi yang bermunculan dan memproduksi banyak film di era perkembangan awal industri ini di Indonesia. Bisa kita katakan bahwa hingga tahun 1990an semua produksi film di Indonesia harus melewati proses dubbing (perekaman suara dalam studio), karena field recording system belum marak di Indonesia.

Kita bisa melihat dengan seksama bahwa film-film yang di produksi pada tahun-tahun tersebut sering mengalami permasalahan produksi, seperti tidak Lip Sync (gerakan bibir dan dialog tidak selaras) dan suara yang terkesan ‘tempelan’ dan tidak menyatu sebagai kesatuan utuh. Setelah berkembangnya field recording system makan pekerjaan dubbing film ini pun mulai ditinggalkan, yang tersisa adalah teknik ADR seperti yang telah dijelaskan di atas.

Dari penjelasan di atas, maka kita seharusnya memahami bahwa ada pergeseran penggunaan Dubbing bila dipandang dari sudut perkembangan industri film di Indonesia. Dubbing yang berkembang di Indonesia pertama kali adalah untuk mengisi suara dalam film karena ketidakadaan alat untuk merekam suara di lapangan, dan kini telah menjadi sebuah alat lokalisasi konten dan produk luar negeri agar bisa di distribusikan dan diterima masyarakat lokal. Jangan terbalik lagi ya pengertian dubbing dan ADR nya.

 

Perbedaan Dubbing dan Voice Over

Setelah kita menjelaskan mengenai definisi, dan sejarah dubbing di Indonesia, mari kita menyoroti sedikit perbedaan voice over talent atau pengisi suara dan dubber. Perbedaan yang paling jelas adalah skill set utama mereka, yaitu pengisi suara harus mampu mengirimkan pesan sebuah narasi yang telah di tulis sedemikian rupa agar mendapat engagement yang lebih tinggi melalui suara, emphasis, dan cara baca yang tepat tanpa harus memperdulikan time code sync, dan lip sync.

Sedangkan dubber dituntut untuk patuh pada time code sync dan lip sync, dengan intonasi yang sebisa mungkin disamakan dengan video yang mereka alih bahasakan. Dubber pun biasanya dituntut untuk mampu memerankan beberapa karakter sekaligus dalam sebuah produksi animasi, sehingga untuk menjadi dubber biasanya memiliki keistimewaan skill pada voice character.

Bagi seseorang yang antusias pada dunia suara, khususnya dunia dubbing atau voice over, pastikan bahwa anda telah memahami perbedaan yang telah kami jelaskan, karena berkarir sebagai pengisi suara ataupun dubber memiliki path yang berbeda.

Begitu pula ketika kita berbicara mengenai bagaimana cara menjadi dubber. Untuk menjadi seorang dubber, beberapa hal yang penting untuk diperhatikan adalah, anda harus melatih pita suara anda untuk dapat memerankan beberapa karakter, dan bisa bersuara yang berbeda untuk mengisi berbagai macam karakter.

Cara melatih karakter suara agar bisa mengenerate suara yang berbeda bisa bermacam-macam, salah satu nya adalah berlatih teknik intonasi low, mid, dan up dengan durasi yang cukup panjang. Selain itu anda juga harus berlatih teknik pernafasan yang tepat, bukan untuk melakukan emphasis pada kalimat yang ada pada naskah seperti yang biasa dilakukan oleh voice talent, namun untuk menjaga stabilitas tonal suara bila anda memerankan suara pada pitch yang biasanya tidak anda gunakan.

Perbedaan Pola Promosi dan Distribusi Voice Over dan Dubbing

Media promosi untuk menjadi dubber pun berbeda. Anda mungkin memerlukan sosial media untuk mempromosikan bahwa anda adalah seorang dubber profesional, namun impactnya tidak akan sebesar ketika anda mempromosikan diri anda sebagai voice over talent profesional melalui sosial media anda. Hal ini bisa terjadi karena perbedaan iklim produksi voice over dan dubbing di Indonesia.

Di industri voice over Indonesia saat ini, client telah mulai mempercayai remote recording system dimana setiap voice over talent terpilih bisa merekam projectnya dari rumah sehingga memaksimalkan social media seperti instagram, youtube dan linkedin merupakan sebuah keharusan agar client bisa menemukan profile anda.

Sedangkan untuk industri dubbing di Indonesia terkesan belum mempercayai hal ini. Biasanya client datang melalui tawaran audisi, atau telah melakukan pemilihan dubber berdasarkan sample suara yang telah dikirimkan kepada sanggar, rekanan studio, atau bahkan banks sample suara yang telah dimiliki sendiri oleh client.

Client akan mengumpulkan dubber-dubber profesional dalam sebuah studio yang memang telah dipercayai untuk mengerjakan project dubbing. Melihat hal ini, maka hal yang perlu dimaksimalkan untuk menjadi dubber profesional di Indonesia adalah, mengirimkan banyak sample voice character kepada sanggar, studio post production, atau bahkan rumah produksi animasi di Indonesia.

 

Menjelaskan secara panjang dan detil mengenai dubbing, perbedaannya dengan voice over dan ADR, merupakan tanggung jawab Inavoice.com selaku digital voice over agency terdepan di Indonesia. Mengapa? Karena sampai saat ini masih banyak sekali tumpang tindih definisi yang ada dan beredar pada pelaku industri, atau anthusias perekaman suara. Dengan meluruskan hal ini, kami berharap bahwa tidak ada tumpang tindih definisi antara voice over talent dan dubber.

Facebook Email Twitter Print